Rabu, 26 September 2007

Kuku Bima



Jenis Rancangan: Kemasan
Jenis Produk: Obat Tradisional
Nama Produk: Kuku Bima
Nomor Daftar Legal: TR. 871232451
Visual Tampak: Background yang digunakan berwarna merah. Pada bagian depan kemasan terdapat ilustrasi tokoh pewayangan Bima. Tulisan merk berwarna putih terdapat di bagian atas ilustrasi. Pada bagian kiri bawah kemasan terdapat logo PT Sido Muncul.

PT Sido Muncul adalah pabrik jamu tradisional dengan menggunakan mesin-mesin mutakhir. Berdiri pada tahun 1940 di Yogyakarta, dan dikelola oleh Ny. Rahkmat Sulistio, Sido Muncul yang semula berupa industri rumahan ini secara perlahan berkembang menjadi perusahaan besar dan terkenal seperti sekarang ini.

Pada tahun 1951, keluarga Ny. Rahkmat Sulistio pindah ke Semarang, dan di sana mereka mendirikan pabrik jamu secara sederhana namun produknya diterima masyarakat secara luas. Karena semakin bersarnya usaha keluarga ini, maka modernisasi pabrik juga merupakan suatu hal yang mendesak.

Pada 1984, PT. Sido Muncul memulai modernisasi pabriknya, dengan merelokasi pabrik sederhananya ke pabrik yang representatrif dengan mesin-mesin modern.
Pada 11 November 2000, PT Sido Muncul kembali meresmikan pabrik baru di Ungaran yang lebih luas dan modern. Peresmian dilakukan oleh Menteri Kesehatan waktu itu, dan pada saat itu pula PT Sido Muncul memperoleh 2 penghargaan sekaligus, yakni Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) setara dengan farmasi, dan sertifikat inilah yang menjadikan PT. SidoMuncul sebagai satu-satunya pabrik jamu berstandar farmasi. Lokasi pabrik sendiri terdiri dari bangunan pabrik seluas 7 hektar, lahan Agrowisata ,1,5 hektar, dan sisanya menjadi kawasan pendukung lingkungan pabrik.

Logo Jamu Sido Muncul yang berupa ibu dan anaknya adalah gambar Ny. Rahkmat Sulistio, pendiri Jamu Sido Muncul beserta cucunya, Irwan Hidayat, saat itu berusia 4 tahun. Irwan Hidayat sejak tahun 1972 sampai sekarang adalah Presiden Direktur PT Sido Muncul.

Produk ini memakai tokoh Bima sebagai iconnya. Karena riwayatnya yang dikenal tangguh dan memiliki tubuh yang paling kuat. Merk yang dipakai jamu ini pun berhubungan dengan kisah Bima. Bima memiliki senjata sakti berbentuk kuku. Kuku tersebut bukan sembarang kuku karena memiliki ketajaman yang konon setara dengan 7 pisau cukur baru. Kuku tersebut dinamakan Pancanaka.

Bima (tokoh Mahabharata)

Bima
Relief Sang Bhima (diambil dari "Gerbang Bhima" di Hampi, Karnataka
Devanagari: भीम; भीमसेन
Ejaan Sansekerta: Bhīma; Bhīmaséna
Nama lain: Werkodara; Bhimasena;Bayusuta; Bharatasena;Blawa
Asal: Hastinapura, Kerajaan Kuru
Senjata: Gada
Pasangan: Dropadi, Hidimbi, Walandara

Bima (Sansekerta: भीम, bhīma) atau Bimasena (Sansekerta: भीमसेन, bhīmaséna) adalah seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahābhārata. Ia dianggap sebagai seorang tokoh heroik. Ia adalah putra Dewi Kunti dan dikenal sebagai tokoh Pandawa yang kuat, bersifat selalu kasar dan menakutkan bagi musuh, walaupun sebenarnya hatinya lembut. Ia merupakan keluarga Pandawa di urutan yang kedua, dari lima bersaudara. Saudara se'ayah'-nya ialah Wanara yang terkenal dalam epos Ramayana dan sering dipanggil dengan nama Hanoman.
Akhir dari riwayat Bima diceritakan bahwa dia mati sempurna (moksa) bersama ke empat saudaranya setelah akhir perang Bharatayuddha. Cerita ini dikisahkan dalam episode atau lakon Prasthanikaparwa.

Bima setia pada satu sikap, ia tidak suka berbasa basi dan tak pernah bersikap mendua serta tidak pernah menjilat ludahnya sendiri.

Arti Nama
Kata bhīma dalam bahasa Sansekerta artinya kurang lebih adalah "mengerikan". Sedangkan nama lain Bima yaitu Wrekodara dalam bahasa Sansekerta vṛkodara artinya ialah "perut serigala" dan merujuk ke kegemarannya makan.


Bima dalam pewayangan Jawa
Bima adalah seorang tokoh yang populer dalam khazanah pewayangan Jawa. Suatu saat mantan presiden Indonesia, Ir. Soekarno pernah menyatakan bahwa ia sangat senang dan mengidentifikasikan dirinya mirip dengan karakter Bima

Sifat
Bima memiliki beberapa sifat dan perwatakan: gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur serta menganggap semua orang sama derajadnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) atau pun duduk di depan lawan bicaranya. Bima melakukan kedua hal ini (bicara dengan krama inggil dan duduk) hanya ketika menjadi seorang resi dalam lakon Bima Suci, dan ketika dia bertemu dengan Dewa Ruci. Ia memiliki keistimewaan dan ahli bermain gada (semacam senjata godam) serta memiliki berbagai macam senjata antara lain: Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar) dan Bargawasta. Sedangkan jenis ajian yang dimilikinya adalah: Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuklindu, Aji Bayubraja dan Aji Blabak pangantol-antol.

Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu: Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah Dewata yang diterimanya antara lain: Kampuh atau kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan Pupuk Pudak Jarot Asem.

Istri dan Keturunan
Bima sebagai tokoh wayang Jawa
Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah negara Amarta. Ia mempunyai tiga orang isteri dan 3 orang anak, yaitu:


  • Dewi Nagagini, berputra (mempunyai putra bernama) Arya Anantareja,

  • Dewi Arimbi, berputra Raden Gatotkaca dan

  • Dewi Urangayu, berputra Arya Anantasena.

Menurut versi Banyumas, Bima mempunyai satu istri lagi, yaitu Dewi Retokotowati, berputra Srenggini (Gagrag Banyumasan).

Jamu, ya jagalah dirimu
"Capek?" sergah seorang bintang sinetron ganteng kepada teman seprofesinya. "Tapi aku enggak pernah dan enggak boleh capek. Makanya, minum...," tambahnya. Memang cuma sekilas, tapi iklan tadi bak gambaran riil masyarakat Indonesia "modern" yang selalu ingin ngejos dan bugar sepanjang waktu.
Memang, makin tinggi tingkat pendidikan dan kesejahteraan suatu masyakarat, kian hebat pula keinginan untuk tampil lebih prima secara fisik. Apalagi belakangan, pilihan "pendongkrak" stamina makin bervariasi. Buat yang menghindari obat-obatan konvensional (kimiawi), jamu bisa menjadi alternatif. Mulai jamu penghilang pegal linu seperti sehat lelaki atau sehat wanita, hingga penjaga kejantanan dan keperkasaan di ranjang.
"Sebenarnya, produk kesehatan sejenis, baik yang konvensional maupun tradisional dapat diminum secara berdampingan," ujar Maria Marosa, manajer Litbang PT Sido Muncul. Itu karena khasiatnya kurang lebih sama, untuk merangsang tubuh membentuk kekebalan, memperlancar sirkulasi darah, dan menambah daya tahan fisik. Namun, bagi yang fanatik pada bahan-bahan alami, ramuan jamu yang sebagian besar menggunakan bahan dari herbal tentu lebih kena di hati.
Belakangan, jamu-jamu penambah stamina memang muncul bak cendawan di musim hujan. Pabrik jamu besar punya jagoan masing-masing.
"Air Mancur" misalnya, punya Ralinu, Jamu Stamina, Benkwat, Sehat Lelaki, Kolasom, serta Kuat Majun. Sementara, "Jamu Jago" mengeluarkan di antaranya Esha, Sehat Pria, dan Sehat Wanita. Pabrik raksasa lainnya, "Sido Muncul" punya andalan Sehat Pria, Kuku Bima, Kuku Bima Ginseng, Kuku Bima TL, Kuku Bima TL Plus Tribulus, Libidione, dan Biogenesis.
Daftar tadi baru datang dari the big players. Kalau ditambah dengan produk sejenis bikinan ratusan pabrik berskala sedang dan kecil di seantero Nusantara, daftar tadi bisa makin panjang. Produk generik bertajuk Jamu Sehat Lelaki dan Jamu Sehat wanita sebagai misal, jumlahnya boleh jadi puluhan, bahkan ratusan. Beragam merek dengan spesifikasi nyaris serupa bisa didapat dengan mudah di kios-kios jamu.
Soalnya, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (Ditjen POM) memang membuka lebar kesempatan bagi perusahaan-perusahaan kecil dan menengah, guna membuat Sehat Lelaki dan Sehat Wanita versi masing-masing. Asal namanya tetap generik dan formulanya mengikuti aturan Ditjen POM. Penyeragaman bahan dan teknik pembuatan dilakukan untuk memudahkan pengawasan mutu. Maklum, nama Sehat Lelaki dan Sehat Wanita bak sama tuanya dengan sejarah jamu itu sendiri.
Mirip-mirip dengan definisi menjaga stamina versi energy drink dan obat-obatan konvensional. Makna kata sehat dan bugar yang dijual ramuan-ramuan tradisional itu pun sangat bervariasi. Mulai sekadar menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh secara umum, seperti: mengembalikan kebugaran tubuh setelah bekerja keras, mengembalikan energi dan konsentrasi, juga meningkatkan stamina untuk melakukan berbagai pekerjaa yang memerlukan energi ekstra.
Selain itu, ramuan sehat ala nenek moyang itu umumnya juga menawarkan peningkatan daya tahan tubuh terhadap beragam penyakit, menjaga penampilan agar selalu fresh dan awet muda, memelihara dan meningkatkan tenaga potensial pria, serta berfungsi sebagai tonik yang diminum saban hari. Pendek kata, segala aspek untuk membuat tubuh bugar sepanjang hari ada disini. Tinggal pilih mana yang paling sesuai dengan aktivitas yang dijalani.
Namun, yang paling mendapat sambutan pasar, barangkali khasiat jamu-jamu itu dalam meningkatkan kualitas "permainan" di atas ranjang. Konon, ehem, jika diminum secara teratur, tingkat kesuburan, libido, dan kemampuan seksual akan meningkat.
Perbedaan tafsir "stamina" ini membuat produk ramuan sehat yang beredar secara garis besar juga terbagi dua. Untuk menjaga kebugaran secara umum, jamu Sehat Lelaki, Sehat Wanita, Balinu, Jamu Stamina, dan sejenisnya jelas lebih pas. Produk yang disebut paling akhir, oleh pembuatnya PT Air Mancur bahkan dipromosikan cocok untuk atlet, yang setiap hari bergulat dengan aktivitas menguras tenaga. Namun, kalau ingin menjaga dan menguatkan stamina dalam "cakrawala berbeda", jamu Esha, Kolasom, Kuat Majun, Libidione, serta keluarga besar Kuku Bima mestinya lebih ngejos.
Dari namanya saja (bayangkan Kuat Majun atau Libidione) sudah tercium kiraa-kira khasiatnya. Bicara soal nama, para produsen jamu punya prinsip sendiri. Berbeda dengan energy drink atau obat konvensional, penghasil ramuan tradisional selalu mengekspresikan mereknya sedekat mungkin dengan image yang hendak diraih. Itu sebabnya, nama Sehat Lelaki dan Sehat Wanita menjadi nama generik yang dipakai semua pabrik jamu, termasuk para produsen besar.
Mereka tak sepakat dengan Shakespeare yang bilang: "apalah artinya sebuah nama." Lantaran nama harus berhubungan langsung dengan permasalahan konsumen. Ping Hantono, direktur PT Air Mancur, perusahaan yang omzetnya konon mencapai Rp 60 -70 miliar per tahun, juga mengakui pentingnya mengarahkan konsumen, agar langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Jamu pegal linu keluaran Air Mancur misalnya, dinamai Ralinu, dekat dengan nama penyakitnya.
Masih soal kehebatan nama, cerita menarik datang dari Kuku Bima, brand yang sudah melahirkan tiga varian turunan (tipe Ginseng, TL, dan TL Plus Tribulus). Uniknya, saat keempat tipe itu dilempar ke pasar secara bersamaan, ternyata keempatnya tak saling mengganggu. "Pangsa pasarnya malah meluas. Itu sebabnya, brand lama tetap kami pertahankan dan tidak berhenti diproduksi. Peminatnya masih tetap besar," kata Maria Marosa.
Pada kasus Kuku Bima, tiap varian dibuat dengan spesifikasi kandungan berbeda-beda. Kuku Bima standar merupakan hasil kolaborasi meniran dan pasak bumi, Sedangkan seri Ginseng, tentu saja dilengkapi ginseng. Seri berikutnya, TL, selain berginseng, ditambahi kuda laut. Keluarga Kuku Bima paling mutakhir, TL Plus Tribulus menggabungkan meniran, pasak bumi, ginseng, kuda laut, dan tribulus.
Baik Air Mancur, Jamu Jago, maupun Sido Muncul --sama seperti pabrik-pabrik berskala menengah dan kecil lainnya, memang memanfaatkan bahan-bahan alami. Terutama ekstrak tanaman, yang di Ditjen POM diberi kode TR. Pasak bumi misalnya, dipercaya dapat meningkatkan kerja saraf-saraf motorik, termasuk yang ada di "senjata" kaum pria. Sedangkan ginseng diyakini bermanfaat untuk melebarkan pembuluh darah.
Ada juga tribulus yang dapat meningkatkan hormon luteinizing, sebelum akhinnya berubah menjadi testosteron. Bahan-bahan lain yang mudah ditemui pada jamu penjaga stamina adalah Ginko biloba yang dipercaya mampu memperlancar peredaran darah dan mencegah pengentalan darah. Ada juga damiana, yang seperti kuda laut, banyak dipakai sebagai afrodisiak, oyster dan kola nut yang berguna untuk meningkatkan libido, serta saw palmetto yang kerap dipakai untuk memelihara kesehatan prostat.
Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah ramuan bahan-bahan tadi bisa diandalkan dari segi medis? Sepanjang proses produksinya jelas dan mengikuti standar Departemen Kesehatan, keraguan mestinya bisa dihilangkan. Kecuali, seperti obat apa pun jenisnya, dikonsumsi secara berlebihan. Di pabrik besar, jamu-jamu tadi bahkan diuji dulu, baik secara klinis (berdasarkan manfaat) maupun toksisitas (berdasarkan khasiat).
Upaya menggodok jamu dengan menggunakan fasilitas modern itu, menunut Ping Hantono, wajib dilakukan. "Mereka selalu ingin tahu, bagaimana mekanisme kerjanya. Termasuk bagaimana jamu-jamu tadi dapat menyembuhkan," kata eksekutif puncak Air Mancur itu. Saat ini, PT Air Mancur memiliki laboratoriuin farmakologi, pharmacognosy & photochemical, mikrobiologi yang sudah diakreditasi Ditjen POM.
Air Mancur juga telah menggunakan jasa tenaga medis untuk menguji produknya, jauh sebelum pemerintah mewajibkan masuknya kalangan kedokteran ke pabrik jamu. Mereka juga salah satu pabrik jamu pertama di Indonesia yang berhasil merumuskan standar mutu produknya. Standar Air Mancur (SAM) yang diperkenalkan pertama kali tahun 1975 itu menjadi patokan proses produksi, sejak penyeleksian bahan, pembersihan, pencampuran, pemrosesan, hingga pengemasan.
Apa yang dilakukan Air Mancur, menurut Maria Marosa, juga dilakukan Sido Muncul. Guna menjaga kualitas, produsen yang bermarkas di Semarang itu juga menggunakan jasa penguji tim dokter. "Kalau bahan-bahan yang digunakan dapat ditelaah secara ilmiah dan mekanismenya jelas, masyarakat akan semakin menerima keberadaan jamu. Apalagi kalau teknologi pengolahannya mendukung dan higienis," terang Mana.
Ambil contoh, tes terhadap Kuku Bima. Uji toksisitas subkronis yang dilakukan menunjukkan, jamu kuat ini aman dikonsumsi untuk jangka panjang, sedangkan uji manfaatnya mendata peningkatan hormon luteinizing, testosteron, dan derajat ereksi pria hingga 80%. Selain itu, masih ada uji hispatologi atau pemeniksaan organ tubuh yang dapat dimasuki produk yang bersangkutan. Hasilnya, aman untuk dimakan. Baru setelah lulus tiga tes tadi, sang Kuku dipasarkan.
Jalan jejamuan penguat stamina menjadi tuan rumah di negeri sendiri makin terbuka. Sempit dan lapangnya jalan itu tergantung pada masyarakat, apakah ramuan nenek moyang itu lebih bisa mereka percaya ketimbang energy drink atau Viagra.

2 komentar:

Alfie mengatakan...

wah saya sangat suka dengan blog yang telah and postkan. Soalnya tentag jamu, dan sejarahnya.

Salam hangat dari saya
Alfie

saruman mengatakan...

ulasan yang cukup mendalam, sangat bermanfaat.